Happiness (Resume Buku) HAPPINESS : by Elizabeth Telfer diringkas oleh: Hillman Wirawan, S.Psi.


Buku ini merupakan buku yang menjelaskan secara filosofis dan mendasar tentang arti dari kata “Happiness”. Kata ini dalam bahasa Indonesia secara sederhana dapat diartikan sepadan dengan kata “Kebahagiaan”. Telfer memiliki cara lain dalam memberikan arti dalam kata tersebut. Pendekatan yang dilakukan dalam membedah Happiness lebih kepada filosofis dibandingkan teoritis. Telfer mengacu banyak pada pandangan ahli-ahli pikir seperti Aristotle mengenai arti kebahagian.

Buku yang dituliskan oleh Telfer memang dikhususkan untuk mendefinisikan dan menguji “Happiness”. Terdapat dua konsep utama yang dibahas dalam buku ini, yakni konsep happiness berdasarkan konsep “hedonistic happiness” dan happiness menurut konsep “eudaemonistic happiness.” Kedua konsep selain dipertentangkan juga dicari hubungannya. Selain itu dalam menjelaskan kedua konsep ini Telfer mencoba menjelaskan mengenai konsep Happiness sebagai sesuatu yang ditujua dalam kehidupan manusia.

Happiness

Secara khusus kata “Happiness” berasal dari bahasa Yunani yakni eudaemonistic. Kata ini secara sederhana langsung diartikan sebagai Happiness meskipun pada kenyataannya mengartikan Happiness sendir memiliki tantangan. Jika berangkat dari paradigma masyarakat sendiri mengenai Happiness sebenarnya terjadi kebingungan mengenai yang dimaksud dengan “bahagian” atau “happy”. Seorang anak yang mendapatkan sepeda baru ketika ditanya apakah kamu sudah bahagia?, tentunya dia menjawab “ya, saya bahagia” akan tetapi ketika diteliti lebih lanjut dengan meninjau kehidupan anak tersebut bisa saja yang dimaksud happy tidak demikian.

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan pendefinisian Happiness yang sebenarnya orang sebut dengan bahagia ketika menyatakannya. Berikut beberapa istilah tersebut seperti rasa senang atau “pleasant”, menikmati atau enjoy”. Seperti perasaan hati yang senang dengan mendapat sebuah sepeda baru. Seseorang dengan mendapatkan sebuah sepeda baru kemungkinan akan merasakan perasaan yang begitu menyenangkan, pertanyaan kemudian adalah apakah dengan perasaan senang tersebut sudah memastikan bahwa dia telah bahagia. Belum tentu demikian bisa saja dengan berbagai kondisi yang dialami orang tersebut dan tidak membahagiakan dia dapat dengan sesaat senang dengan sepeda baru yang dimiliki walaupun sebenarnya dia masih mengharapkan hal yang lain.

Enjoy merupakan kondisi atau situasi yang dirasakan oleh seseorang. Berbeda dengan rasa senang yang diperoleh seseorang karena setelah mendapatkan sesuatu atau merasakan sesuatu. Enjoy adalah menikmati yang artinya seseorang mengatakan dirinya bahagia atau happy karena berada dalam kondisi tertentu dan melakukan sesuatu. Seperti seorang anak yang menikmati mengendarai sepeda yang dimilikinya. Menikmati ini tanpa memandang jenis sepeda yang digunakan baru atau lama dan sebagainya. Menikmati lebih kepada kondisi yang sedang dirasakan.

Kedua istilah tersebut sering dikaitkan dengan istilah “happy”, orang yang mendapatkan kondisi tersebut telah menganggap dirinya bahagia. Merasa senang dan merasa menikmati sesuatu, apakah benar-benar adalah sama dengan happy?, hal tersebut ternyata berbeda. Dalam beberapa penjelasan mengenai happiness, hal-hal tersebut belum dapat dikatan sebagai Kebahagiaan karena Kebahagiaan sendiri memiliki konsep yang berbeda dan tidak mensaratkan hal-hal tersebut.

Kebahagian seharusnya tidak diarahkan pada kondisi tertentu saja atau memiliki materi tertentu. Kebahagian yang dimaksud seharusnya adalah kebahagian yang merupakan keseluruhan dari kehidupan. Kebahagian bukan hanya karena perasaan senang karena materi atau kondisi terntu. Kebahagiaan adalah “Happiness in life” bukan “karena” tetapi kebahagian yang ada dalam hidup. Artinya kebahagian baru dikatakan kebahagian ketika itu adalah kebahagian dalam hidup “happiness in life”.

Aristotle memiliki pandangan tersendiri mengenai “happiness.” Aristotle  berpendapat bahwa kebahagiaan pada seseorang terjadi ketika seseorang tersebut “Achieving one major goals” atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan “menggapai tujuan utama.” Tujuan yang dimaksud adalah tujuan yang penting dalam hidup seseorang tersebut sehingga ketika digapai maka yang terjadi adalah orang tersebut merasakan kebahagiaan.

Pandangan Aristotle ini bukan merupakan syarat dari kebahagian bahwa seseorang yang ingin menjadi orang yang bahagia harus menyelesaikan tujuan utama dalam hidupnya. Pandangan ini lebih kepada umumnya arah pikiran mengenai kebahagiaan. Pandangan ini memiliki beberapa hal yang bisa kita perhatikan bersama menyangkut dengan “achieving one thing” atau memperoleh sesuatu yang diinginkan dalam hidup. Penjelasa lain mengenai achieving mengungkapkan bahwa menggapai tujuan hidup adalah bagian yang diperlukan dalam kebahagian, dengan kata lain orang yang tidak menggapai tujuan hidupnya tidak akan bahagia.

Seseorang merasakan kebahagiaan atau menganggap dirinya bahagia ketika mendapatkan (achieving) yang mereka betul-betul mereka inginkan (Really wants). Persoalannya kemudian adalah apakah yang kita betul-betul inginkan adalah yang betul-betul diinginkan. Seseorang bisa saja setelah mendapatkan yang dianggapnya betul-betul yang diinginkan menemukan dirinya pada kondisi yang tidak diinginkannya. Ketika kita menetapkan bahwa ini yang betul-betul kita iginkan bisa saja ketika kita mendapatkannya hal itu tidak lagi menjadi sesuatu yang betul-betul kita inginkan. Jika kebahagian disandarkan pada sekedar memperoleh sesuatu maka begitu sesuatu itu didapatkan kita bisa kehilangan kebahagiaan ketika sesuatu itu hilang atau terjadi perubahan nilai dari sesuatu itu. Manusia memiliki kecendrungan untuk menggesar nilai dari sesuatu atau materi yang didapatkannya. Sebuah sepeda tidak lagi menjadi sesuatu yang betul-betul diinginkan hanya karena kita mulai memandang bahwa sepeda motor jauh lebih berharga dan saya mampu mendapatkannya.

Kebahagiaan merupakan autoritas dari setiap individu. Individu itu sendiri yang mentukan apakah dia bahagia atau tidak. Berbagai hal bisa saja terjadi di sekeliling kita dan berbagai keinginan bisa saja dating dan pergi tetapi kebahagiaan tetap merupakan autoritas dari setiap pribadi. Untuk seseorang sebuah sepeda sudah cukup memuaskan tetapi bagi yang lain mobil belum cukup memuaskan.

Eudaemoniac Happiness dan Hedonistic Happiness

Tefler selanjutnya menjelaskan bahwa terdapat miskonsepsi antara istilah kebahagiaan yang sebenarnya perlu dijelaskan dengan kebahagiaan yang sebagian besar dijelaskan dan dipahami. Untuk itu Tefler mengungkapkan bahwa jika dia menjelaskan “kata bahagia” tanpa penjelasan lebih lanjut berarti yang dimaksud adalah “hedonistic happiness” sedangkan jika terdapat pertimbangan berdasarkan valuation berarti yang dimaksud adalah “eudaemoniac happiness.” Selanjutnya akan dijelaskan tentang eudaemoniac happiness yang memiliki perbedaan dengan “hedonistic happiness”.

Pada beberapa bagian dari penjelasan di awal buku Happiness, Tefler banyak menjelaskan tentang happiness. Penjelasan tersebut bukan merupakan penjelasan secara umum yang menyangkut kedua konsep happiness yang diusung dalam buku, tetapi penjelasan tersebut lebih kepada penjelasan tentang hedonistic happiness. Oleh karena banyak diantara penjelasan tentang happiness berkaitan dengan perolehan sesuatu atau merasakan sesuatu secara lebih objektif atau materil.

Perbedaan mendasar antara hedonistic dengan eudaemonistic happiness adalah proses valuation atau pemberian penilaian terhadap kebahagiaan. Hedonistic happiness lebih kepada objective valuation sementara eudaemonic happiness adalah subjective valuation. Orang yang subjective valuation menganggap kebahagian didapatkan dalam jalan hidup, sementara objective valuation menganggap kebahagiaan adalah reaksi dari jalan hidup yang dipilih. Untuk lebih mudah membedakannya, orang yang memiliki penilaian objektif menilai sesuatu dari sesuatu berharga yang diinginkannya atau berharga yang dimilikinya.

Terdapat satu lagi pandangan Aristotle yang menyangkut tentang eudaemonia. Eudaemonia seharusnya lebih cenderung kepada aktivitas seseorang dibandingkan dengan memiliki kondisi saat ini yang dimiliki. Sepertihalnya seseorang yang bahagia karena mampu bekerja setiap hari dalam hidupnya demi kemanusiaan, bukan sekedar mengatakan bahwa sekarang saya adalah orang yang memiliki pekerjaan. Disinilah letak dari perbedaan kedua sudut pandang eudaemonia dan hedonistic happiness.

Antara eudaemoniac dan hedonistic happiness meskipun memiliki berbagai perbedaan tetapi dalam penjelasan Tefler keduanya memiliki hubungan Eudaemoniac happiness bisa menjadi bagian yang dibutuhkan dari hedonistic happiness. Selain itu, eudaemoniac sebagai strategi untuk menggapai hedonistic happiness.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s