Psikologi Sosial (Atribusi dan Equity)


  1. 1. Equity Theory

Pengertian

Adams (1963) mengungkapkan bahwa teori equity membahas mengenai kepuasan kedua belah pihak terhadap kesamaan yang diperoleh dalam hubungan yang dibangun. Orang-orang merasa sangat senang dalam sebuah hubungan ketika apa yang diberikannya sama dengan apa yang diterimanya. Jika seseorang menerima terlalu sedikit dalam hubungannya, lalu mereka tidak hanya merasa tidak senang dengan hubungan tersebut tetapi juga merasa bersalah dengan ketidak seimbangan tersebut.

Dalam hubungan jangka pendek kita berupaya untuk saling menukarkan barang, seperti halnya meminjamkan uang, membelikan minuman ringan, dan lain-lain. Sedangkan dalam hubungan jangka panjang, pertukaran tidak hanya sebatas barang-barang saja tetapi lebih kepada sesuatu yang emosional, seperti kasih saying, pertolongan, cinta, dan sebagainya.

Teori equity sering juga disebut teori inequity sebagaimana efek ketidak samaan yang juga bisa muncul dalam hubungan selain efek kesamaan. Aumer-Ryan (2007) menjelaskan bahwa teori equity sebagai fakta bahwa, terdapat dua hal yang perlu diperhatikan; 1) seberapa baik reward yang diterima seseorang dalam lingkup sosial, keluarga, remantisme, dan pekerjaan, 2) seberapa adil dan sama hubungan tersebut. Hal ini yang dapat memicu konflik yang terkadang dipandang negative padahal dengan adanya konflik tersebut akan dapat membantu membenahi hubungan. Christie (2001) mengungkapkan bahwa positif atau negatifnya sebuah konflik bergantung dari cara menyelesaikan konflik.

Contoh:

Ada dua orang yang menjalin hubungan persahaban si A dan si B. Si A adalah seorang pimpinan di departemen yang mengurusi pajak, sedangkan si B adalah pengusaha dengan income milyaran rupiah perbulannya. Si B selalu meminta kepada si A agar urusan pajaknya dipermudah dan jumlahnya di markup. Untuk beberapa kali si A bersedia melakukannya karena menghargai persahabatan mereka, tetapi semakin lama si A merasakan “rugi” melakukan hal dengan resiko tinggi tersebut terlalu sering sementara si B tidak memberikan imbalan apapun. Akhirnya, dengan berbagai alasan si A tidak lagi melakukan hal tersebut.

Penjelasan contoh:

Si A merasa bahwa hubungan mereka tidak seimbang/sama lagi, karena hanya si B saja yang memperoleh keuntungan sementara si A merasa dirugikan bekerja dengan resiko yang tinggi.

  1. 2. Teori Atribusi

Pengertian

Atribusi merupakan sebuah proses rasional. Kehadiran atribusi dalam kehidupan sosial tidak dapat dihindarkan. Setiap hari manusia yang hidup secara sosial akan dihadapkan pada berbagai bentuk perilaku yang dia amati dan terjadilah atribusi. Gleitment (1999) mendefinisikan atribusi sebagai proses dimana seseorang menentukan penyebab suatu perilaku. Penelitian mengenai bagaimana atribusi terbentuk adalah kajian psikologi sosial.

Perilaku terbentuk karena ditentukan oleh orang itu sendiri (actor) dan situasi yang menyertainya. Mungkin saja perilaku ditentukan oleh orangnya sendiri dan mungkin juga karena situasinya. Ketika seseorang mengamati, ada orang yang mengamati dan berfokus pada orangnya (actor) saja dan ada juga yang berfokus pada kejadian yang menyertainya. Meskipun seseorang memperhatikan kedua elemen dalam mengatribusi, tetapi orang terkadang gagal dalam memahami mengapa sesuatu terjadi dan apa makna di baliknya. Inilah yang terkadang memicu konflik karena terjadi kegagalan dalam memahami dan mengatribusi. Hal tersebut disebut dengan fundamental attribution errors.

Tidak jarang terjadi bias dalam atribusi. Diantaranya terdapat actors-observer bias dimana kehadiran actors-observer memicu perbedaan interpretasi kognitif dan persepsi, self-serving bias dimana seseorang dalam mengatribusi cenderung menempatkan dirinya pada posisi yang menguntungkan (menolak tanggungjawab  kegagalan tetapi merasa kesuksesan karena usahanya). Terdapat pula efek diatas rata-rata (above average effect) dimana seseorang merasa dirinya atau kelompoknya di atas rata-rata pada hal-hal yang membanggakan menurutnya.

Atribusi yang bias dan error tanpa mencoba untuk memahami yang terjadi sebenarnya sebagai penyebab terjadinya sebuah perilaku akan berdampak pada kecendrungan timbulnya sebuah konflik.

Contoh:

Pada sebuah pertandingan sempak bola dunia, seorang pemain ternama dari Negara Perancis tiba-tiba menyerang pemain dari Negara lain dengan sunduran kepala tepat di dada. Spontan pada waktu itu penonton tiba-tiba heran, ribut, dan wasit mengeluarkan kartu merah tanda pemain asal Negara perancis tersebut di keluarkan dari lapangan.

Penjelasan contoh

Pada saat pemain dari Negara Perancis menyundur dada pemain dari Negara lawan, tiba-tiba ribuan penonton yang hadir pada saat itu masing-masing membuat atribusinya. Ada pihak yang langsung menyalahkan salah satu pihak, ada juga pihak yang heran dan ingin tahu apa yang memicunnya.

  1. 3. Memahami Teori Equity dan Atribusi dalam Konflik

Teori Equity

Hubungan akan berjalan dengan baik salami terjadi timbal balik yang saling menguntungkan semua pihak. Hubungan akan berakhir dan bahkan dapat memicu konflik ketika salah satu pihak merasa dirugikan. Dalam hubungan equity theory ini juga sebenarnya berlaku teori exchange dan reciprocal. Kedua teori membahas tentang hubungan timba balik dan pertukaran keuntungan dalam hubungan yang dijalin. Hubungan tidak hanya yang sederhana yang berlaku dalam teori ini, tetapi juga hubungan yang kompleks sepertihalnya hubungan suami istri.

Teori Attribusi

Kita mengamai setiap perilaku yang terjadi di luar diri kita, tanpa kita sadari ketika kita melihat sesuatu terjadi tiba-tiba secara tidak sadar kita bisa saja membuat kesimpulan yang secara langsung menyalahkan salah satu pihak atau keadaan. Proses atribusi yang terjadi pada ranah kognitif seseorang berlangsung begitu cepat, dan terkadang tanpa melibatkan pemahaman yang lebih jauh mengenai alasan sesuatu terjadi. Bias dan error dalam attribusi dapat menjadi pemicu terjadinya konflik. Konflik yang disebabkan oleh kesalahan dalam mengatribusi dapat diminimalkan dengan cara 1) memahami lebih jauh alasan sesuatu terjadi dengan lebih objektif, 2) tidak segera mengambil keputusan dari apa yang diamati sekilas.


Daftar Pustaka

Adams (1963), Adams (1965), Homans (1961), Walster, Walster and Berscheid (1978). Theory of Equity.

Aumer-Ryan, K., Hatfield, E., & Frey, R.  (June, 2007.) Examining Equity theory across cultures.  Interpersona: An International Journal on Personal Relationships.

Christie, D. J., Wagner, R. V., & Winter, D. A. (Eds.).  (2001). Peace, Conflict, and Violence: Peace Psychology for the 21st Century.  Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall.

Gleitment, H., Fridlund, A.J., Reisberg, D. 1999. Psychology. 5th edition. N.Y.: W.W. Norton and Company, Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s