Demokrasi di Tangan “Guru” Politik Bangsa


DEMOKRASI DI TANGAN “GURU” POLITIK BANGSA

HILLMAN WIRAWAN

Fakultas Psikologi

Universitas Negeri Makassar

Indonesia merupakan sebuah bangsa yang berdiri di atas landasan demokrasi. Demokrasi tidak hanya tumbuh saja dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia akan tetapi memerlukan proses secara historis memakan waktu yang begitu panjang dan intervensi dasar budaya yang berbeda-beda di Indonesia. Selain hal tersebut, jatuh bangun nilai-nilai berdemokrasi di Indonesia juga terjadi. Selama kurun waktu 32 tahun rezim orde baru, nilai berdemokrasi kurang dapat terintegrasi dalam politik bangsa Indonesia disebabkan kekanan dan kontrol politik yang tidak ideal. Pemerintah sebagai pemegang otoritas eksekutif melakukan “pembodohan” politik secara sistematis yang mengakibatkan lahirnya pemahaman yang keliru mengenai idealisme berpolitik di Indonesia.

Pemahaman mengenai politik secara berangsur-angsur melalui pergerakan media memberikan pembelajaran dengan pemaparan strategis. Jika kekeliruan membangun demokrasi telah mengalami kekeliruan maka perlu diadakan sebuah pembenahan yang dapat membelajarkan bangsa Indonesia tentang nilai-nilai yang selayaknya terbangun dalam panggung politik demokrasi di Indonesia. Demokrasi dari generasi ke generasi harus dapat di transfer dengan pemahaman yang tentunya benar bukannya menyimpang dan menyesatkan dengan kontrol pihak tertentu yang mengatas namakan diri sebagai penjunjung tinggi amanah rakyat.

Media massa sebagai lembaga yang independen dan objektif memaparkan informasi layak menjadi “guru” pendidikan politik di Indonesia. Dengan syarat sebagai media yang ideal tanpa intervensi dan kepentingan pihak tertentu dalam memaparkan kebenaran. Media massa memiliki fungsi sebagai kontrol sosial kemasyarakatan yang mampu membangun pemahaman secara holistik mengenai kehidupan sosial dan realitas sosial yang dihadapi. Selain itu, peran media jua erat kaitannya dengan proses transfer pengetahuan yang tidak hanya terlibat dari satu orang ke orang yang lain akan tetapi jauh dari itu media massa juga memiliki peran sebagai “guru” yang menyampaikan informasi dari generasi ke generasi. Informasi yang disampaikan tentunya bermuatan kebenaran, objektif dan tanpa keberpihakan kepentingan pihak tertentu.

Jauhnya kesenjangan antara harapan demokrasi dengan kenyataan yang terbangun saat ini boleh jadi disebabkan karena proses transfer pendidikan politik di masyarakat yang keliru diwariskan terus menerus. Pendidikan politik harus dapat memiliki tujuan, tujuan yang membangun dan jelas membawa perubahan dalam demokratisasi masyarakat Indonesia. Media massa dalam hal ini tentunya memiliki tanggung jawab untuk dapat memberikan pendidikan politik berkenaan dengan perannya sebagai “guru” yang mentransfer pengetahuan dari generasi ke generasi. Tanpa harus berbicara mengenai kesalahan siapa dan menggiring sebuah pertanyaan “mengapa?” yang hanya berujung pada tudingan dan tuduhan untuk saling melemparkan tanggung jawab mendidik generasi.

Pola pendidikan atau bentuk transfer pengetahuan yang dilakukan oleh media dapat disaksikan dalam bentuk pelatihan dan dialogik tersistematis dengan pendidikan politik bertujuan membenahi proses berdemokrasi di Indonesia.  Bentuk pelatihan bermaksud untuk dapat memberikan informasi yang dapat direalisasikan secara praktis demi demokratisasi Indonesia. Bentuk yang kedua dapat secara jelas disaksikan yakni bentuk dialogik. Bentuk dialogik merupakan pemaparan dinamika, argumentasi dan perdebatan kontradiktif yang sebenarnya berupaya untuk dapat membangun pamahaman mengenai idealisme berdemokrasi di Indonesia.

Arah pendidikan politik Indonesia sebenarnya dapat tergambarkan melalui peran media jika media massa berperan aktif dan proaktif. Arahnya jelas yakni pencerdasan anak bangsa dalam menjalankan politik dengan tujuan demokrasi. Gambaran mengenai peran pendidikan politik di Indonesia dengan tujuan demokratisasi bangsa dapat ditinjau secara historis dengan teknik pendekatan peran media. Hasilnya dapat dilihat saat ini dan dapat disimpulkan bahwa partisipasi dalam meramaikan pesta demokrasi masih sangat kurang. Kecurangan terjadi dan tak terelakkan, ambisiusitas memimpin untuk memegang otoritas pribadi tertinggi diutamakan bukannya demi kepentingan suara rakyat. Janji-janji politik disebar luaskan sebagai modal utama tersalurnya dukungan rakyat. Lebih parahnya lagi, “bisnis gelap” politik dengan permainan dana segar juga ikut diandalkan. Pantas diduga pendidikan politik di Indonesia masih buruk.

Memandang adanya penyimpanan tersebut pendidikan politik diperlukan dan peran serta media massa dibutuhkan dengan tujuan mencerdaska kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Ada tiga poin penting untuk dapat memulai langkah pembenahan. Tiga poin tersebut merupakan senter poin kekuata politik yang mengantarkan pemahaman berdemokrasi yang ditransfer melalui media massa. Tiga poin tersbut adalah peristiwa politik, elite politik dan partai politik.

Peristiwa politik adalah informasi yang sebenarnya memang harus disajikan. Penyajiannya tentunya berdasarkan objektivitas historis bukan disain kepentinga pihak tertentu yang memanfaatkan sejarah politik di Indonesia. Selanjutnya kedua adalah peran elite politik. Peran elite politik melalui ekspos media massa memiliki pengaruh yang kuat terhadap pembangunan image demokrasi. Elite politik memiliki peran sebagai model dalam proses modeling figure politik. Proses modeling tersebut akan menjadi langkah dan terjangkau keseluruh plosok tanpa campur tangan peran media massa. Namun modeling yang keliru akan berdampak pada transfer yang keliru. Ketiga adalah partai politik. Partai politik merupakan kendaraan yang mendukung mobilisasi dan sosialisasi politik. Segala tindak tanduk mobilitas politik dipaparkan melalui media sebagai proses pembelajaran menuju negeri demokrasi yang didambakan oleh Indonesia.

Berbagai informasi dan proses pembelajaran melalui tayangan, bacaan, dan suara adalah bentuk pendidikan bagi generasi bangsa. Media massa adalah institusi yang sebenarnya memiliki andil untuk dapat menyalurkan informasi tersebut. Disinilah peran yang sebenarnya dimiliki oleh media massa sebagai guru politik bangsa dengan tujuan mempertahankan demokrasi dan memahamkan generasi akan pentingnya peran setiap individu bangsa dalam membangun Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s