Gangguan Somatoform

Somatoform

somatoform merupakan gangguan psikologis yang menyebabkan terganggunya fungsi fisik tertentu pada seseorang. gangguan ini muncul dalam empat bentuk gangguan yang kesemuanya memiliki hubungan dengan terganggunya fungsi fisik tertentu. adapun bentuk gangguan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Gangguan konversi

merupakan bentuk perubahan yang mengakibatkan adanya perubahan fungsi fisik yang tidak dapat dilacak secara medis. gangguan ini muncul dalam konflik atau pengalaman traumatik yang memberikan keyakinan akan adanya penyebab psikologis.

2. Hipokondriasis

terpaku pada keyakinan bahwa dirinya menderita penyakit yang serius. Ketakutan akan adanya penyakit terus ada meskipun secara medis telah diyakinkan. Sensasi atau nyeri fisik biasa sering diasosiasikan dengan gejala penyakit kronis tertentu.

3. Gangguan Somatisasi

Keluhan fisik yang muncul berulang mengenai simtom fisik yang tidak ada dasar organis yang jelas. Gangguan ini menyebabkan seseorang untuk melakukan kunjungan medis berkali-kali atau menyebabkan hendaya yang signifikan dalam fungsi.

4. Gangguan Dismorfik Tubuh

Terpaku pada kerusakan fisk yang dibayangkan atau berlebih-lebihan. Menganggap orang tidak memperhatikannya karena kerusakan tubuh yang dimilikinya (dipersepsikannya). Gangguan ini akan membawa seseorang pada perilaku kompulsif . seperti berulang-ulang berdandan. dll.

Jurnal Psikologi

REVIEW JURNAL

  • Peringkas
Hillman Wirawan
  • NIM
077104031
  • Tanggal
9 Oktober 2008
  • Topik
Psikologi Perkembangan
  • Penulis
Richard J. Stevenson and Betty M. Repacholi
  • Tahun
2003
  • Judul
Age –Related Changes in Children’s Hedonic Response to Male Body Odor
  • Jurnal
Journal of Developmental Psychology
  • Vol. & Halaman
Vol. 39, No. 4, 670-679
  • Latar Belakang
Ketika orang dewasa dihadapkan pada bau badan, bau kaki, atau sampah pada siang hari yang panas maka secara intens reaksi mereka dapat dilihat tidak suka. Memprediksikan respon anak-anak, balita atau anak bayi terhadap jenis bau yang sama sepertinya sulit untuk dipertimbangkan.

Penelitian mengenai respon hedonik terhadap bau busuk pada bayi, tidak menguatkan bukti akan adanya respon bawaan. Pada penelitian ini pusat konsentrasi berada pada ekspresi wajah sebagai indikasi dari emosi ketidaksenangan terhadap sesuatu.

Penelitian sebelumnya yang melibatkan anak-anak pra-sekolah terjadi inkonsistensi. Sebagai contoh, Peto (1936) dan Stein, dkk (1958) menemukan tidak ada respon hedonik terhadap bau keringat dan bau badan pada anak-anak tersebut. Sementara di sisi lain anak-anak pada usia 4 tahun memiliki kepekaan yang sama dengan orang dewasa terhadap bau badan.

Data yang berbeda pada anak yang lebih tua yakni 7 tahun terdapat konsistensi. Mereka memiliki respon hedonik sebagai mana halnya dengan orang dewasa.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai titik perkembangan dimana individu merespon hedonik seperti halnya orang dewasa muncul, ada kesepakatan jika perubahan usia tertentu dalam merespon hedonik memang ada.

  • Hipotesis
  1. Pada Eksperimen 1A terdapat perbedaan respon hedonik antara remaja dan anak-anak?
  2. Pada Eksperimen 1B pada sampel dewasa ada perbedaan gender dalam respon hedonik pada bau keringat laki-laki.
  3. Terjadi perbedaan krusial pada sampel 1A mengenai identifikasi keaslian bau yang dicium.
  • Metode
  • Partisipan
Eksperimen 1A 49 anak (mean age= 8,69 tahun, SD = 0,71, range = 8-11 tahun) dan 35 Remaja (mean age = 16,62 tahun, SD=0,49 , range= 16-17 tahun). 23 anak laki-laki dan 26 anak perempuan dari sekolah dasar Sydney, Australia. Remaja laki-laki berjumlah 19 dan perempuan 16 orang.

Eksperimen 1B 30 mahasiswa dari Macquarie University. 15 laki-laki (mean age 26,47 tahun, SD=3,60) dan 15 perempuan (mean age 26,93, SD=3,99). Range umur 24-37.

Eksperimen 2. 37 anak (mean age 8,08 SD=0,43 range 7-9 tahun) 36 remaja (mean age 16,64 tahun SD 0,49 , range 16-17 tahun.

  • Instrumen
Eksperimen 1A Menggunakan 7 jenis bau yang berbeda; bau keringat laki-laki, bau keringat perempuan, androstenon, butanol, pentadekalakton, caramel, dan buah cheri.

Eksperimen 1B Tes bau disiapkan dalam identifikasi perilaku pada Eksperimen 1A, dengan hanya perbedaan terjadi pada salah seorang sukarelawan pria yang tidak bersedia untuk mengoleksi bau keringatnya. Prosedur dilakukan pada remaja pada eksperimen 1A.

Eksperimen 2 Stimuli yang digunakan sama halnya dengan eksperimen 1B.

  • Prosedur
Setiap eksperimen menggunakan prosedur yang sama, hanya pengambilan data yang secara khusus dibedakan. Setiap partisipan secara individual dites dalam ruangan. Seorang peneliti dan asistennya selalu mendampingi partisipan. Setiap partisipan duduk di hadapan meja menghadap kamera tersembunyi. Sesi dimulai dengan mengumpulkan informasi biografi.

Peneliti kemudian menunjukkan bagaimana cara mencium bau yang ringan (buah ceri), dengan cara meletakkan hidung 3-5 cm diatas lubang botol dan menekan botol ketika menghirup bau. Partisipan juga diberi tahukan bahwa mereka diamati dengan kamera untuk mengetahui prosedur yang mereka lakukan sudah benar.

Ketika mencium bau-bau yang berbeda tersebut, partisepan diberikan 5 skala yang akan mengevaluasi pendapat mereka mengenai bau yang mereka cium ( saya tidak suka sekali, saya suka, tidak yakin, saya tidak suka, saya tidak suka sekali).

Kemudian untuk menguji kekuatan bau tersebut digunakan skala; tidak bau, sedikit, banyak, tajam.

Pada eksperimen 2, partisipan diberi tahu dari mana asar bau tersebut yakni dari baju pria yang telah dipakai selama 2 hari dan dipakai melakukan olahraga.

  • Hasil
Pada penelitian 1A Wanita remaja lebih banyak merespon tidak senang terhadap bau keringat pria dibandingkan dengan anak-anak perempuan. Sedangkan pada anak laki-laki dan anak laki-laki remaja tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

Pada penelitian 1B Tidak terjadi perbedaan yang signifikan antara remaja dan dewasa dalam mengidentifikasi bau keringat pria. Terjadi perbedaan gender yang signifikan antara remaja wanita dan remaja pria dalam mengidentifikasi bau keringat pria. Remaja wanita lebih tidak senang mencium bau tersebut. Dalam hal ini tidak ada perbedaan yang signifikan antara anak-anak dan remaja.

Tidak terdapat perbedaan gender dan usia dalam mengidentifikasi bau Androstenone, Pentadekalaktone, Botanol dan Karamel. Ekspresi wajah kurang memberikan informasi dibandingkan dengan skala yang diisi.

Eksperimen ke-2 Respon remaja pria berubah menjadi tidak suka, sama dengan respon remaja wanita pada ekperimen 1A. Dengan memberikan petunjuk asal bau tersebut tidak memberikan respon yang berbeda pada remaja pria dan wanita dalam mengidentifikasi bau keringat tersebut.